Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia

Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia

Proses penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama awal yang aktif menyebarkan dan mengembangkan Islam di kawasan Nusantara. Mereka telah memainkan peranan penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Mereka itu antara lain Nurudin al-Raniri, Hamzah Fansuri, Abdul Samad Al-Palimbani dan Abdul Rauf Singkel. Berikut ini penjelasan singkat mengenai kehidupan mereka :

1. Syekh Nurudin al-Raniri

Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia

Nama lengkapnya adalah Nurudin Muhammad bin Ali bin Hasan Al-Hamid al-Quraysi al-Raniri. Dilahirkan di Ranir atau Randir sebuah pelabuhan tua di pantai Gujarat. Tidak ada informasi yang pasti mengenai tanggal dan tahun kelahirannya, karena ia tidak banyak berbicara mengenai  dirinya baik dalam karya-karyanya maupun kepada murid-muridnya, tapi diperkirakan pada akhir abad ke-16. lbunya seorang Melayu, sedangkan ayahnya seorang imigran Hadramaut, Yaman yang sering berpindah ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Nenek moyangnya kemungkinan termasuk dalama keluarga al-Hamid dari zuhra, salah satu dari sepuluh keluarga Quraisy. Di antara anggota keluarga Zuhara yang terkemuka adalah seorang sahabat Nabi yakni Abdul Rahman bin Auf Tetapi mungkin juga, nenek moyang al-Raniri adalah Zubair al-Asadi al-Humaydi, yang dikenal sebagai seorang ulama asli Mekkah yang terkemuka. A1-Humaydi adalah salah seorang murid al-Syafii.

Al- Raniri belajar agama di Ranir, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Hadramaut juga kc Haramain (Mekkah & Madinah). Guru al-Raniri yang paling terkenal adalah Abu Hafs Umar bin Abdullah Basysaiban al-Tarimi al-Hadrami, yang juga dikenal di wilayah Gujarat dengan sebutan Sayyid Umar al-Aydrus. Aceh sejak dulu dikenal banyak menerima ulama yang datang baik dari Persia maupun India. Mengikuti jejak pamannya, Syeikh Muhamad Jailani bin Hasan al-Raniri yang berkunjung ke Aceh Iima puluh tahun sebelumnya, al-Raniri datang ke Aceh pada tanggal 6 Muharram 1047 H/31 Mei 1637 M pada masa Sultan Iskandar Muda. Kedatangannya ke Aceh tidak disambut hangat baik oleh penguasa maupun masyarakat karena perbedaan madzhab. Apalagi, Syamsudin al—Sumatrani seorang tokoh tasawuf falsafi diangkat menjadi penasihat kerajaan.

Namun ketika Sultan Iskandar II naik tahta menggantikan Iskandar Muda pada tahun 1637 M, Al-Raniri langsung diangkat sebagai Syekh Islam atau mufti, salah satu kedudukan tinggi di kesultanan Aceh. Tugas al-Raniri adalah bertanggungjawab atas masalah-masalah keagamaan. Al-Raniri juga melakukan pembaruan ajaran Islam di Aceh. Menurut pendapatnya, muslim di Aceh sudah dikacaukan dengan kesalahpahaman atas doktrin sufi. Ia menentang doktrin wujudiah yang diajarkan Hamzah Fansuri dan Syamsudin al-Surnatrani. Bahkan ia menfatwakan hukuman ati bagi mereka yang mengikuti faham sufi wujudiyah.

Al-Raniri kembali ke tanah kelahirannya pada tahun 1644 M. Beliau melewati sisa-sisa hidupnya selama 14 tahun di Ranir. Tujuh tahun di Aceh, ia telah menghasilkan 29 karya. Al-Raniri meninggal pada hari Sabtu 21 September 1658 M/22 Dzulhijja 1068 H.

Karya-karya al-Raniri

Al-Raniri adalah seorang ulama yang produktif, berpengetahuan Iuas dalam berbagai bidang ilmu agama. Katya-karyanya membincankan masalah-masalah dibidang fiqih, aqidah, tasawuf dan hadits. Karya—karyanya banyak yang menentang pemikiran atau pendapat-pendapat Hamzah Fansuri dan Syamsudin al-Sumatrani. Sekitar 30 judul buku telah beliau hasilkan yang sudah ditemukan hingga hari ini, antara Iain:

1. Al-Shirath al-Mustaqim, dalam bahasa Indonesia dengan tema pembahasan bidang fiqih meliputi shalat, puasa, zakat, haji dan qurban seita hukum-hukumnya.
2. Durrah al-Fara’idh fi syarh al-Aqaid, dalam bahasa Indonesia dengan topik pembahasan analisis kritik terhadap Syarh al-Aqaid al-Nsqfiyyah, karya Imam Sa'duddin al-Taftazani
3. Hidayah al-Habib fi al-Targhib wa al-Tarhib fi al-Hadits, dalam bahasa Arab dan Indonesia memuat 381 hadits
4. Bustan al-Salathinfi Dzikr al-Awwalin dan al-Akhirin, mempakan karya terbesar dalam sejarah wilayah Aceh, dengan topik pembahasan meliputi sejarah nabi-nabi, raja-raja, menteri-menteri dan wali-wali. Pada bagian penutup sejarah negeri-negeri Melayu, sedangkan Bab terakhir membicarakan akal, filsafat dan sifat-sifat perempuan.
5. Nubdzah di Da’wah al-Dzill, dengan topik pembahasan tasawuf dan merupakan penegasan aliran pemikirannya yang menilai konsep panteisme sesat. Buku ini diuraikan dengan tanya jawab.
6. Lathaifal-Asran mengenai tawsawuf
7. Asras al-lnsanfia Marifah al-Ruh al-Bayan, dalam bahasa Indonesia membahas manusia dalam hubungannya dengan Allaj SWT begitu juga dengan masalah ruh dan hakikatnya.
8. Al-Tubyanfi Marifah al-Adyanfi al-Tasawuff, Menguraikan secara lengkap perdebatan melawan pengikut Fansuri yang menjadi penyebab dikeluarknya fatwa “hukum mati’ kepada mereka.
9. Akhbar al-akhirahfi Ahwal al-Qiyamah, dengan topik pembahasan  al-Nur al-Muhammadi, penciptaah Adam, siksaan hari kiamat, surga dan neraka.
10. Hill al-Dzill, membahas komentar terhadap karyanya sendiri, Nubdzah di Da 'wah al-Dzill ma ’a shahibih dalam bidang tasawuf
11 . Ma al-Hayah li Ahl al—Mayyit, dalam bisang tasawuf dan penolakan terhadap panteisme.
12. Jawahir al— Ulumfi Kasyfal-Ma ’lum, dalam bahasa Indonesia tentang tasawuf, ilmu makrifat, ilmu hakikat, wujud dan sifat-sifat Allah.
13. Aina al-Alam Qabla an Yukhlaq, dalam bahasa Indonesia dengan tema pembahasan tasawuf dan penolakan terhadap panteisnie.
14. Syifa al-Qulub ’an al-Tasawuf, pembahasan makna dua kalimat syahadat dan tata cara dzikir.
15. Hujjah al-Shidiq fi daf’i al-Zindiq, dalam bahasa Indonesia membahas ilmu kalam, aliran-aliran kalam, aliran filsafat Islam, kaum sufi dengan tofik perhatian kesesatan pada panteisme.
16. Al-Fath al-Mubin ’ala al-Mulhidin, dengan topik akidah dan tasawuf yang menekankan kesesatan doktrin panteisme, perlunya memerangi para pengikutnya dan membakar buku-bukunya.
17. Al-Lam’an fi Takfir man qala bi khalq al-Qur’an, dalam bahasa Arab membahas surat Sultan Banten Abdul Mafakbir Abdul Qadir AIi. dalam bahasa Arab dengan tema penolakan terhadap aliran Hamzah Fansuri
18. Shawarim al-Shidiq fi al-Qat’i al-Zindiq, dalam bahasa Arab membahas penolakan terhadap aliran Fansuri
19. Rahiq al-Muhamadiyah fi Thariq al-Shufiyah, dalam bahasa Arab tentang tasawuf
20. Bad’u khalq al—samawat wa al-ardh, dalam bahasa Arab tentang tasawuf
21. Hidayah al-Imam bi Fadhl al-Manan, dalam bahasa Indonesia tentang makna Islam, iman, makrifat, dan tauhid.
22. Ilaqah Allah bi al-Alam, terjemhan ke dalam bahasa Indonesia tentang tasawuf
23. Aqaid al-Shufiyah al-Muwahiddin, dalam bahasa Arab berisi tentang pengalaman-pengalaman kaum sufi pada saat menyebut la ilah illallah.
24. Kayfiyah al-Shalah, dalam bahasa Indonesia tentang tata cara shalat
25. Al-fath al- Wadud fi bayan wahdah al-wujud, dalam bahasa Arab
26. Ya Jawwad Jud, dalam bahasa Arab tentang panteisme
27. Audhah al-Sabil laysa li Abathil al—Mulhidin Ta’wil, dalam bahasa Arab
28. Audhah al-Sabil laysa li al-Kalam al-Mulhidin Ta ’wil, dalam bahasa Arab
29. Syadzarat al-Murid, dalam bahasaArab
30. Umdah al-I’tiqad, dalam bahasa Arab

Semua karya di atas merupakan bukti bahwa al-Raniri memiliki misi menyelamatkan akidah masyarakat muslim dari pemahaman filsafat tasawuf yang bisa menyesatakan.

2. Abdul Samad al-Palimbani

Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia
Al-Palimbani merupakan keturunan Arab Yaman, ayahnya bernama Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahab al-Mahdani. Hijrah ke Palembang di akhir abad ke-17 M. Menjadi mufti di wilayah Kedah (sekarang salah satu propinsi di Malaysia). Setelah kembali ke Palembang kemudian menikah dan dianugerahi anak yang di beri nama Abdul Samad pada tahun antara 1700-1704 M. Abdul Samad menerima pelajaran agama kali pertama di Palembang kemudian melanjutkan ke Mekkah dan Madinah.

Abdul Samad menghabiskan masa mudanya di Mekkah dan Madinah untuk belajar dan menulis. Guru-gurunya adalah para syekh besar seperti Syekh Muhamad al-Saman al-Madani, pendiri tarekat Samaniyah al-Khalwatiyah. Ia memperoleh ijazah dari Syekh Saman untuk mengajar dan mengenalkan tarekat Samaniyah di Palembang. Atas petunjuk gurunya, ia belajar kepada Syekh Abdul Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi yang mengaj arkan beberapa buku filsafat dan tasawuf.

Selama berada di Mekkah dan Madinah, Abdul Samad banyak menulis beberapa buku baik dalam bahasa Arab maupun Indonesia untuk memenuhi permintaan masyarakat di Palembang. Komunikasi dan hubungannya dengan tanah kelahirannya tidak pernah terputus bahkan ia menyarankan agar masyarakat Palembang khususnya dan bangsa Indonesia umumnya untuk melawan penjajah Belanda.
Pada masa tuanya ia kembali ke Palembang mengajarkan tarekat Samaniyah dan memiliki banyak pengikut. Setelah berdakwah di Palembang ia pergi ke Kedah dan wafat di sana tempat keluarganya tinggal.

Karya-Karya Abdul Samad al-Palimbani

Riwayat hidup Abdul Samad memang sangat sedikit yang bisa dicatat oleh para sejarawan. Namun karya-karyanya bisa menjadi bukti bahwa beliau memiliki pengaruh yang besar di kalangan masyarakat di Nusantara.
Berikut ini karya tulis Abdul Samad al-Palimbani :

1. Zuhrah al-Muridfi Bayan Kalimah Tauhid, dalam bahasa Indonesia ditulis pada tahun 1764 M.
2. Nasihah al-Muslimin wa Tadzkirah al-Mu’minin fi Fadhail al-Jihad Sabilillah wa karamah al-Mujahidin fi sabilillah, dalam bahasa Arab ditulis pada tahun 1772 M.
3. Tuhfah al-Ragibin fi Bayan Haqiqah Imam al-Mu’minin wa ma ufiiduhi fi Riddah al-Murtadin, dalam bahasa Indonesia ditulis tahun 1774 M untuk memenuhi permintaan Sultan Palembang dalam rangka membendung pengaruh tasawuf Harnzah Fansuri.
4. Al-Urwah al-Wustqa wa Silsilah Uli Tuqa, dalam bahasa Arab dan memuat kumpulan doa, Wirid, dan bacaan dzikir untuk Waktu-waktu tertentu
5. Hidayah al-Salikin fi Suluk Maslak al-Mutaqin, dalam bahasa. Indonesia dan rampung ditulis pada 1 787 M.
6. Ratib Abdul Samad, dalam bahasa Arab yang mengandung zikir, doa-doa dan shalawat atas Rasulullah SAW.
7. Sayr al-Salikin ila Rabb al-Alamin, dalam bahasa Indonesia ditulis pada 1779 M.
8. Zad al-Mutaqin fi Tauhid Rabb al-Alamin, buku ini ringkasan pendapat guru Syekh Samman.

3. Abdul Rauf Singkel

Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia
Abdul Rauf Singkel dilahirkan di Singkel, sebelah utara Fansur di pantai barat Aceh. Tidak banyak yang bisa diketahui dari masa kecilnya. Ia memperoleh pengetahuan agama dari ayahnya yang seorang ulama. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke Banda Aceh kemudian ke Timur Tengah. Ia menghabiskan waktu selama 19 tahun untuk menuntut ilmu di beberapa tempat dan kepada beberapa guru.

Dalam perjalanannya ke Timur Tengah, Singkel menuntut ilmu di Doha, Qatar, tempat ia belajar kepada Abdul Qadir al-Mawrir. Kemudian ia pergi Yaman di sana ia belajar di Baitul Faqih, Zabid, Mawza, Mokha, al-Luhayah, Hudaydah dan Taizz. Tidak diketahui pasti berapa lama ia belajar di Yaman dan kapan ia meninggalkan negeri itu. Yang pasti, setelah dari Yaman ia pergi ke Jeddah dan belajar kepada Syekh Abdul Qadir al-Barkhali. Kemudian belajar di Masjidil Haram. Setelah belajar di Masjidil Haram, Singkel beralih Madinah. Kota suci ini menjadi tujuan terakhirnya, ia pun merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya. Di Madinah ia berguru kepada Ahmad al-Qusasi dan Ibrahim al-Qurani.

Setelah puas belajar di berbagai tempat, Singkel kembali ke Aceh. Ia meninggalkan Madinah menuju Aceh setelah kedua gurunya di Madinah meninggal dunia ia sampai di Aceh pada tahun 1661 M/1584 H. Pada tahun tersebut Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin.

Di Aceh ia diangkat Sultan sebagai Qadi al-Malik al-Adil atau mufli yang berkewajiban atas urusan agama dalam kesultanan Aceh. Selain itu, ia aktif mengajar dan menulis. Singkel telah menulis sekitar 22 karya yang membahas fiqih, tafsir, kalam dan tasawuf. Tulisannya lebih banyak berbahasa Arab daripada berbahasa Melayu, karena ia lebih fasih berbahasa Arab.

Singkel meninggal sekitar tahun 1105 H/ 1693 M. Dimakamkan dekat kuala atau mulut sungai Aceh, tempat itu juga menjadi makam istri dan muridnya. Karena dimakamkan di kuala, Singkel kemudian dikenal dengan Syekh kuala. Makamnya menjadi tempat ziarah keagamaan yang dikunjungi orang hingga hari ini.

Karya-Karya Abdul Rauf Singkel

1. Umdah al-Mukhtajin ila Suluk Maslak al-Mufridin, buku ini memberi informasi mengenai tempat-tempat yang didatanginya ketika menuntut ilmu, begitu juga mengenai guru-gurunya dan ulama lain yang ditemuinya.
2. Lubb al—Kasr wa al-Bayan li ma Yarahu al-Muhtadar bi al- Ayyan, tulisan mengenai kaum sufi dan pandangannya mengenai sikap Nurudin al-Raniri terhadap kaum sufi. Karya ini ia konsultasikan lebih dulu kepada gurunya Ibrahim al-Qurani.
3. Tasir Tarjuman al-Mustafid, tafsir al-Qur'an 30 Juz dalam bahasa Melayu
4. Mir’ah Thullabfi Tashil Mar’rifah al-Ahkam al-Syar’iyah li al-Malik al- Wahhab, tentang fiqih muamalah.

4. Muhammad Arsyad al-Banjari

Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia

Muhammad Arsyad al-Banjari lahir pada tahun 1710-1812 M di Martapura Kalimantan Selatan. Beliau adalah ulama paling terkenal dari Kalimantan Selatan yang merupakan tokoh penting dalam proses islamisasi di Kalimantan. Beliau memperoleh pendidikan dasar agama dari ayahnya dan dari guru-guru di desanya. Pada saat berusia 7 tahun, Arsyad sudah mampu membaca al-Qur'an dengan baik.

Ia melanjutkan pendidikannya ke Haramain (Mekkah & Madinah). Bersama-sama murid dari Indonesia seperti Abdul Samad al-Palimbami dan beberapa penuntu ilmu dari Melayu Indonesia. Di Mekkah ia belajar selama 30 tahun, kemudian pindah ke Madinah dan belajar di sana selama 5 tahun. Setelah itu ia kembali ke Kalimantan pada tahun 1773 M.  

Muhammad Arsyad dikenal sebagai ulama yang menguasi ilmu fiqih, salah satu karyanya dalam bidang fiqih ialah sabilal muhzadin. Dalam ilmu tasawuf ia juga menulis karyanya yang berjudul Kanz al-Ma'rifah. Seperti halnya ulama-ulama Nusantara yang lainnya, Arsyad juga sering berkomunikasi dengan guru-gurunya di Haramain khususnya menanyakan hal-hal seputar agama yang terjadi di Kalimantan. Seperti meminta pandangan gurunya Sulaiman al-Kurdi mengenai kebijakan Sultan Banjar yang mendenda kaum muslimin di Banjar yang tidak shalat Jum'at.

5. Syekh Nawawi al-Bantani

Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Umar al-Nawawi al—Bantani al-Jawi lahir pada tahun 1813 M. Beliau dikenal sebagai ulama Nusantara yang paling terkenal pada abad 19. Dari namanya bisa diketahui ia bcrasal dari Banten. Ayahnya adalah seorang penghulu di Tanara Serang Banten. Ibunya bemama Khadijah juga berasal dari Tanara. Masa kecil Nawawi dihabiskan untuk belajar ilmu agama kepada ayahnya, juga kepada Haji Sahal seorang ulama Banten dan Raden Haji Yusuf di Purwakarta Jawa Barat.

Pada usia 15 tahun, Nawawi berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan tinggal di sana selama 3 tahun untuk belajar ilmu-ilmu agama kepada syekh-syekh di Masjidil Haram, antara lain kepada Sayid Ahmad bin Sayid Abdurahman al-Nawawi, Sayid Ahmad Dimyati, Sayid Ahmad Zaini Dahlan. Selain di Mekkah ia juga belajar di Madinah kepada Syekh Muhamad Khatib Sambas al-Hanbali juga kepada guru asal Mesir Yusuf Sumulaweni, Nahrawi dan Abdul Hamid Dagastani.

Pada tahun 1883 Syekh Nawawi kembali ke Banten dan mengajarkan para pemuda di kampungnya ilmu-ilmu agama. Tidak lama di Banten ia kembali ke Mekkah pada tahun 1855 melanjutkan belajar sampai menjadi guru di Haramain hingga akhir hayatnya.

Syekh Nawawi merupakan ulama yang produktif, beliau sangat dihormati oleh ulama-ulama di Haramain. Sehingga beliau memungkinkan untuk mengajar di Masjidil Haram sejak tahun 1860. Padahal untuk mengajar di Masjidil Haram bukanlah perkara yang mudah, sebab yang berhak mengajar di sana adalah mereka yang punya kapasitas ilmu yang sangat tinggi.

Sebagai seorang syekh di Haramain, Nawawi memiliki banyak murid yang belajar kepadanya. Antara murid-murid Nawawi yang berasal dari Melayu Indonesia adalah Syekh Hasyim Asy’ari, Syekh Khalil Bangkalan, Syekh Ilyas Serang dan Tubagus Muhamad Asnawi Caringin. Selain mengajar , beliau juga aktif menulis. Salah satu karyannya yang diakui dunia Islam adalah tafsir al-munir atau tafsir marah labid. Syekh Nawawi Wafat pada tahun 1 897 M di Mekkah dan dimakamkan di samping makam Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah SAW.

6. Ahmad Khatib Minangkabau

Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau adalah seorang ulama Melayu Indonesia yang lahir di Bukittinggi pada tahun 1855 M. Beliau adalah penggagas pembaruan ajaran Islam di Minangkanbau. Beliau dilahirkan  dari keluarga yang taat beragama dan memegang kuat adat dan tradisi Minangkabau. Ayahnya adalah seorang jaksa di Padang, dan ibunya adalah anak dari Tuanku nan Renceh, seorang ulama terkemuka di Padang.

Pada tahun 1876 M beliau berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan pendidikan agamanya di Masjidil Haram kepada para ulama besar di sana. Sampai ia mendapatkan kedudukan yang tinggi sebagai ulama dan dipercaya sebagai guru di Masjidil Haram. Menurut cerita, beliau tidak kembali lagi ke Minangkabau. Akan tetapi beliau tetap memantau perkembangan ajaran Islam di tanah kelahirannya. Beliau mengajarkan orang-orang Padang yang pergi haji dan menyarankan berbagai hal untuk kemajuan Islam di sana.

Beberapa murid Syekh Khatib antara lain Syekh Tahir Jalaludin, Syekh Muhamad Jamil Jambek, Haji Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad. Berbeda dengan ulama lainnya yang terjun ke dunia tarekat atau tasawuf, Syekh Khatib lebih menekankan kepada syariat saja. Bahkan ia membuat buku yang berjudul lzhar Zugal al-Kadzibin yang isinya penolakan kepada tarekat salah satu kumpulan tarekat. Syekh Khatib meninggal di Mekkah pada tahun 1916 dalam usia 60 tahun.


1 Response to "Peran dan Karya 6 Ulama Ternama dalam Pengembangan Islam di Indonesia"

  1. Ini yg mau saya baca, buat persiapan ulangan semester, thanks mimin

    BalasHapus